Aku bermimpi ingin menjadi ini,ingin menjadi itu,aku bermimpi untuk menginjakkan kakiku di negeri ini dan negeri itu,mimpi mimpi itu kusimpan sendiri,tanpa tiada orang lainpun yang tahu hendak kemana aku dan hendak menjadi apa aku,tapi ada satu orang di dunia ini yang kupercaya untuk mendengar semua mimpi mimpiku,aku bercerita padanya tentang semua mimpi mimpiku,dengan penuh semangat dan wajah tersenyum riang aku katakan padanya tentang aku dan impinku.Semua itu kulakukan karena aku percaya bahwa ia yakin dan percaya padaku,percaya pada impianku,percaya pada keyakinan dan tekadku dan percaya pada usahaku.
Tapi apa jadinya ketika mimpi mimpi yang terlontarkan justru mendapat gelakan tawa tak percaya,apa jadinya jika yang yang di dapat hanyalah jawaban penuh lelucon bernada meremehkan? dan semua perlakuan itu didapat dari orang yang amat dipercaya.
Aku pernah merasakan itu,dulu juga sekarang,,,
Dulu aku bermimpi mendapatkan ini dan itu,aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadikannya nyata,orang itu pernah berkata bahwa hal itu tidak mudah,sangat sulit bagiku,kau tahu kawan begitu mendengar kata itu darinya aku tak mampu berkata apa apa,aku hanya tersenyum lalu pergi meninggalkannya,terisak seorang diri,berdialog pada kesunyian yang (selalu) mengelilingiku,aku waktu itu marah,kemarahan yang tidak aku tahu kepada siapa kemarahan itu kutujukan,apa kepada diriku,dia yang kupercaya,impianku atau bahkan kepada TUHAN yang mengizinkanku bermimpi.
Jam demi jam berlalu,tidak kusadari aku telah terombang ambing hanya karena sebuah komentar terhadap mimpiku kemudian aku menyadari,tidak ada satupun yang patut untuk dijadikan sasaran kemarahan,baik diriku,orang yang kupercaya,impianku bahkan Tuhan yang mengizinkanku bermimpi,justru karena Dia aku memiliki kesempatan untuk melukis "Aku" di kertas gambarku sendiri.
Aku mencoba untuk mengerti,mengapa orang yang kupercaya berkata demikian,kucoba berlapang hati dan ku coba untuk membangkitkan diri (dengan kata kata motivasi yang kubuat sendiri walaupun tidak sebagus kata kata Mario Teguh tapi cukup manjur-bagiku-).
Pagi hari setelah kejadian itu,aku mencoba merajut usaha yang memungkinkanku untuk menjawab dan mewujudkan mimpiku,seperti biasa aku tetap menjadi aku,usaha yang kulakukan tetap sama hanya saja intensitasnya lebih tinggi,ku coba tertawa dan kucoba bergandengan tangan dengan mimpiku.
Beberapa saat kemudian,aku sampai pada suatu titik dimana impian itu (harus) terwujud,aku menangis sebelumnya,banyak hal yang membuatku menangis tapi tetap saja tiada yang tahu dan ingin tahu,lagi lagi aku tertawa,terkadang dunia kejam,terkadang dunia butuh hiburan seperti para pemimpi,siapa contohnya?,ya aku.
Inilah waktunya,aku menunggu apa impian itu menjadi nyata atau hanya sebuah ilusi ataupun fatamorgana di tengah terik yang melelehkan semangat hidup orang (oke,ini lebay).Dan tahu apa yang terjadi? mimpiku menjadi nyata bahkan lebih tinggi dari apa yang aku harapkan,aku tertawa,kali ini dunia tertawa bersamaku.Saat itu pula aku percaya yang perlu kulakukan adalah menutup telingaku dari segala hal yang menjatuhkan dan membuang harapanku,terutama dari orang yang ku percaya.
Kali ini hal itu terjadi lagi,dia menertawakan lagi tapi kali ini aku tidak menangis dan aku tidak menutup telingaku lagi hanya saja aku mengatakan,"Lihat saja nanti ya..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar