Selasa, 20 Agustus 2013

Untuk "Kemuliaanmu" ...




Hari ini ketika membuka twitter,time line saya dipenuhi oleh berbagai tweet mengenai sebuah rencana kebijakan controversial di sebuah wilayah si Sumatera Selatan sana,sebuah kebijakan untuk melakukan tes keperawanan bagi para siswi yang ingin melanjutan pendidikan ke tingkat menengah atas.Kebijakan tersebut sontak menarik saya untuk menyelam ke berbagai pemberitaan tentang benar atau tidaknya berita tersebut,saya ingin mengetahui latar belakang maupun tujuan yang hendak dicapai dari kebijakan tersebut.
Setelah saya menelusuri berbagai  sumber yang tersedia,saya mengetahui  kebijakan yang direncanakan  akan berlaku pada tahun 2014 dilatar belakangi oleh maraknya perilaku seks bebas dan prostitusi  yang  terjadi  di daerah Prabumulih  dan sebagian pelakunya adalah pelajar sekolah menengah.
Tujuan atas rencana pemberlakuan kebijakan ini adalah untuk menekan dan memberantas prostitusi maupun perilaku seks bebas di daerah tersebut.
Setelah saya membaca,mengetahui latar belakang dan tujuan yang hendak dicapai timbul suatu pemikiran dalam benak saya bahwa kebijakan yang hendak dicanangkan ini tidaklah efektif dalam memberantas pergaulan bebas yang marak terjadi saat ini yang bahkan terjadi bukan hanya di Prabumulih melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia dan itu tidak bisa dipungkiri.
Saya mengatakan kebijakan ini tidak efektif bukan berarti saya setuju dengan pergaulan bebas justru saya amat sangat mengecam,saya mengatakan kebijakan tersebut tidak efektif karena bukan jera yang di dapat bagi para pelaku justru petaka lain yang akan muncul.
Kebijakan ini tidak efektif karena yang pertama adalah apa yang akan dilakukan oleh dinas pendidikan jika saja terdapat siswi yang terbukti tidak gadis lagi  dikarenakan sebuah perbuatan diluar kehendaknya seperti  -maaf- pemerkosaan dimasa lalu? Bukankah itu justru akan menimbulkan atau membangkitkan kembali traumatis terhadap kejadian kelam tersebut? Mungkin tidak dipublikasikan tapi dengan tes itu sendiri sudah memberikan tekanan tersendiri kepada batin si siswi yang bersangkutan.
Kedua,apa yang akan dilakukan dinas pendidikan ketika ada siswi yang “positif” terhadap hasil tes itu,pelarangan pelayanan dalam pendidikan,pelarangan untuk sekolah,atau pemberian label pada siswi tersebut?
Ketiga,pergaulan bebas bukan dilakukan oleh satu orang,tentu ada “teman”nya,lalu jika ini diterapkan bukankah terdapat pemberlakuan diskriminasi padahal keduanya sama sama melakukan perbuatan haram tersebut.
Keempat,perbuatan seks bebas ataupun prostitusi bukanlah masalah individu lagi,penyakit ini sudah mengglobal dan  yang bertanggung jawab bukan hanya si pelaku melainkan semua orang,mulai dari keluarga,teman,kerabat,guru,sekolah bahkan pemerintah.Jadi dengan tujuan untuk memberi efek jera dengan pemberlakuan ini tidaklah tepat karena penyakit yang telah menjangkit para generasi muda ini terjadi karena kurangnya intensitas pembekalan terhadap berbagai norma dan nilai terutama dari sisi aqidah atau keyakinan.Pemahaman yang kurang terhadap para pelaku inilah yang justru menjadi penyebab rendahnya moralitas dan maraknya pergaulan bebas.Meskipun telah diketahui oleh si pelaku maupun orang tua tentang si anak yang “positif” atas hasil tes tersebut namun pemahamannya kurang terhadap sikap dan perilaku  maka perbuatan itu tetap akan berulang dan berulang dan bahkan justru akan menjadi semakin “liar” karena si pelaku anggap semua orang sudah tahu dan malu sudah berlalu jadi tidak masalah lagi untuk melakukan perbuatan  haram tersebut.
Oleh karena itu menurut saya yang mesti dilakukan untuk memberantas segala bentuk perilaku pergaulan bebas adalah pembentukan pola pikir berupa penanaman pemahaman tentang buruknya perbuatan tersebut baik dari sisi agama (bukan buruk lagi,tapi haram) maupun sisi ilmiah (kesehatan),pendidikan inilah yang harus ditanam sedini mungkin kepada generasi muda mulai dari diri sendiri,keluarga sang pendidik utama ,sekolah,juga pemerintah.
Mungkin ada yang heran mengapa saya memasukkan pemerintah turut andil,karena itu saya akan menjelaskan mengapa pemerintah turut andil dalam proses menjadikan generasi muda yang beradab,pemerintah turut andil karena pemerintahlah yang menetapkan kebijakan terhadap kurikulum pendidikan,pendidikan yang diberikan tidak hanya masalah duniawi saja melainkan juga masalah moral,masalah agama sehingga semuanya seimbang,bukankan sangat bermanfaat jika ilmu pengetahuan juga dilandaskan dengan agama.Lalu yang kedua pemerintah atau Negara lebih tepatnya memiliki wewenang kepada media baik media cetak maupun media elektronik untuk tidak menebar tontonan maupun bacaan yang berbau pornografi yang mendorong generasi muda memiliki keinginan untuk berbuat yang tidak tidak.
Setelah dilakukan pembentukan pola pikir,pelaksanaan kewajiban oleh orang tua berupa pendidikan,pemberian kasih sayang dan pengawasan,pelaksanaan kewajiban oleh sekolah untuk mendidik dan memberi berbagai wawasan yang mumpuni untuk menjaga moral pelajar,pelaksanaan kewajiban pemerintah untuk menjaga generasi muda dari pengaruh buruk globalisasi,maka pada akhirnya sampailah kembali kewajiban pada generasi muda itu sendiri untuk menjaga nama baik dirinya,keluarganya,Negara dan yang paling utama menjaga aqidahnya dan apabila perbuatan itu masih tetap bergulir diberlakukanlah tindakan represif seperti pemberian hukuman,jika kebijakan preventive telah dilakukan seoptimal mungkin maka tidak ada lagi alasan untuk menolak pemberlakuan hukuman,tetapi jika tindakan preventif sendiri minim ditekankan tentu tindakan represif kecil kemungkinan akan berhasil.
Pada akhirnya jika memang dunia tidak lagi mengingatkanmu hai anak muda,carilah ilmu,ingatlah Tuhanmu dan jaga dirimu,mungkin semua bertanggung jawab tapi tanggung jawabmu lebih besar untuk dirimu,carilah kebenaran dengan ilmu dan nuranimu dan kau akan menemukan arti kemuliaan.

NB: Mari kita bersama melawan pergaulan bebas dengan cara yang mendidik dan "membekas" bagi generasi kita,untuk generasi mudaku jagalah kemuliaanmu,jika memang belum ada yang mengingatkan carilah ilmu dunia akhirat dan jagalah dirimu sendiri..

Mae Hwa_KM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar