Jumat, 11 Oktober 2013

Penggalan "Sajak Potret Keluarga"

Suka Sajak Potret Keluarga bagian ini :


……………………………………
Tanggal lima belas tahun rembulan 
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
 
Di bawah cahaya bulan
 
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan
 
Akar bambu bercahaya pospor

Kelelawar terbang menyambar-nyambar

Seekor kadal menangkap belalang
Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :
“ Ayah dan ibu yang terhormat, 
Aku pergi meninggalkan rumah ini.
 
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
 
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
 
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
 
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
 
tetapi kehilangan kesejahteraan.
 
Bahkan kemewahan yang ayah punya
 
Tidak juga berarti kemakmuran.
 
Ayah berkata : “santai, santai ! “
 
Tetapi sebenarnya ayah hanyut
 
Dibawa arus jorok keadaan
 
Ayah hanya punya kelas,
 
Tetapi tidak punya kehormatan.
 
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
 
Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?
 
Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
 
Seorang petani lebih produktif daripada ayah.
 
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
 
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
 
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
 
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
 
Ayah tidak produktif melainkan destruktif.
 
Namun toh ayah mendapat gaji besar !
 
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
 
tidak pernah, bukan ?
Terlalu beresiko, bukan ? 
Apakah aku harus mencontoh ayah ?
 
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
 
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
 
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “
Yogya, 10 Juli 1975. 
Potret Pembangunan dalam Puisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar