……………………………………
Tanggal lima belas tahun rembulan
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
Di bawah cahaya bulan
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan
Akar bambu bercahaya pospor
Kelelawar terbang menyambar-nyambar
Seekor kadal menangkap belalang
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
Di bawah cahaya bulan
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan
Akar bambu bercahaya pospor
Kelelawar terbang menyambar-nyambar
Seekor kadal menangkap belalang
Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :
“ Ayah dan ibu yang terhormat,
Aku pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
tetapi kehilangan kesejahteraan.
Bahkan kemewahan yang ayah punya
Tidak juga berarti kemakmuran.
Ayah berkata : “santai, santai ! “
Tetapi sebenarnya ayah hanyut
Dibawa arus jorok keadaan
Ayah hanya punya kelas,
Tetapi tidak punya kehormatan.
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?
Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
Seorang petani lebih produktif daripada ayah.
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
Ayah tidak produktif melainkan destruktif.
Namun toh ayah mendapat gaji besar !
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
tidak pernah, bukan ?
Aku pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
tetapi kehilangan kesejahteraan.
Bahkan kemewahan yang ayah punya
Tidak juga berarti kemakmuran.
Ayah berkata : “santai, santai ! “
Tetapi sebenarnya ayah hanyut
Dibawa arus jorok keadaan
Ayah hanya punya kelas,
Tetapi tidak punya kehormatan.
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?
Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
Seorang petani lebih produktif daripada ayah.
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
Ayah tidak produktif melainkan destruktif.
Namun toh ayah mendapat gaji besar !
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
tidak pernah, bukan ?
Terlalu beresiko, bukan ?
Apakah aku harus mencontoh ayah ?
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “
Apakah aku harus mencontoh ayah ?
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “
Yogya, 10 Juli 1975.
Potret Pembangunan dalam Puisi
Potret Pembangunan dalam Puisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar