”Dan kami memilihnya bukan sebagai wakil-wakil ormas-ormas, tapi sebagai individu-individu yang cakap.”
Kalimat itu selalu saya tekankan dalam diri saya dalam menghadapi berbagai pergolakan politik kampus,saling tuding menuding adalah hal biasa,caci mencaci dari belakang adalah hal yang lumrah,saya tidak suka kelumrahan itu,saya risih.
Dalam perpolitikan kampus,kendati seorang calon ketua adalah seseorang yang berlatar belakang dari sebuah organisasi di kampus tersebut tidak serta merta ia disebut perwakilan dari golongan selama ini ia berbaur.Sekali lagi saya tekankan,pribadi pribadi yang mencalonkan diri adalah sebagai seorang individu yang menyanggupi segala kewajiban yang telah diamanahkan kepadanya,bukan perwakilan golongan atau organisasi.
Para calon itu ketika sudah terjun ke dunia politik atau ketika sudah terpilih adalah orang orang yang dipercayakan oleh para mahasiswa sebagai pemimpin mereka dalam beraktivitas di berbagai kegiatan kemahasiswaan,mereka bertindak untuk mahasiswa mahasiswa bukan untuk golongan mereka,tidak ada ceritanya,si A adalah dari golongan tertentu,maka kepentingan yang didahulukan adalah kepentingan golongan tertentu tersebut.
Apakah golongan tertentu telah melakukan pembinaan atau pengkaderisasian tidaklah menjadi sebuah alasan untuk "menghalalkan" penyebutan istilah "wakil" dari kami (red:golongan tertentu).
Mengenai caci mencaci dibelakang,beberapa kali saya temukan,tidak perlu menyebut siapa tapi bagi saya hal tersebut bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh seseorang (dalam hal ini beberapa orang) yang mengaku diri sebagai seorang intelegensia,seseorang yang memiliki pandangan atau sikap kritis tidaklah menyudutkan seseorang lainnya dalam hal ini adalah kompetitornya dengan penyerangan personal,ketika seorang intelektual beradu pendapat yang harus dipermainkannya adalah ide,pemikiran bukan personanya,seorang kompetitor yang baik tidak akan memperburuk citra lawannya dengan berusaha mencemarkan reputasi atau citra orang tersebut,namun sepertinya hal tersebut sudah menjadi kultur sebagian besar orang,kalau boleh dikata sudah menjadi kultur dari bangsa kita (maaf,tanpa mengurangi rasa cinta tanah air,dengan sedih saya lontarkan hal tersebut).
Oleh karena itu,menurut saya sebaiknya perlu ditekankan kembali kepada semua elemen mahasiswa,untuk melihat segala sesuatu dengan objektif tanpa ada unsur etnocentris politik,sah sah saja jika mendukung sebagai pribadi,tapi sebagai perwakilan organisasi manapun,bagi saya tetap tidak etis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar