Sabtu, 02 November 2013

SOE HOK GIE


Soe Hok Gie,seorang sosok idealis yang lahir pada tanggal 17 Desember 1942,mengenai tanggal lahirnya tidak banyak dbicarakan,ia hanya menulis :
                “Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik”.
Gie berperawakan kecil tetapi bercita cita besar,Gie adalah seorang pemuda yang tidak hanya belajar dan berusaha untuk mengejar cita citanya tetapi ia juga mencatat berbagai hal yang dialaminya dan dipikirkannya.Itulah yang membuat ia abadi dan dicintai,seperti kata Pram
                “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis.Suaramu takkan padam ditelan angin,akan abadi,sampai jauh,jauh dikemudian hari”.
Gie adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia jurusan sejarah,pada masa itu fakultasnya bernama Fakultas Sastra sekarang telah berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya.Meskipun seorang lulusan sejarah,Gie tidak dapat dkatakan sebagai ahli sejarah karena ia kurang sabar mempelajari persoalan persoalan sejarah secara teratur dan teliti namun dia adalah seorang pemikir yang ulung,ia selalu menggunakan segenap akal pikirannya untuk mempelajari dan memecahkan berbagai problematika yang sedang terjadi dalam masyarakat terutama pada era Presiden Soekarno.Gie banyak mendapat perhatian dan simpati akibat kevokalannya melalui  tulisannya yang kritis dan dia dikenal oleh berbagai kalangan dari tukang peti mati sampai kalangan “langit” kala itu.
Gie adalah seorang pemuda yang berani,banyak tulisan tulisannya yang dimuat di surat kabar sarat dengan kecaman maupun kritik pedas kepada pemerintah,ia menjadikan kenyataan sebagai sumber utama pemikirannya,keadaan yang sedang bergulir pada era Soekarno benar benar menggelitik akalnya untuk terus bekerja,menemukan berbagai ide dan gagasan untuk mewujudkan cita citanya,mulia dan sederhana,keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Peran Gie terhadap pergantian rezim Soekarno ke  era Soeharto tidaklah kecil,dengan tulisan tulisan kritisnya itulah ia menyadarkan dan menggerakkan para pembaca terutama pemuda untuk mengubah keadaan yang sedemikian bobroknya kala itu,Gie juga sering menjadi orang di belakang layar ketika para mahasiswa turun ke jalan,namun sayang justru perjuangan Gie dan pemuda lainnya dikhianati oleh pemerintahan Soeharto sendiri,pun dengan militer yang pada awalnya dipercayai Gie untuk mengubah keadaan kemudian malah mengkhianatinya dengan peristiwa pembantaian massal terhadap  PKI dan simpatisannya,tangkap dan adili,itulah jargon yang populer kala itu.Walaupun tanpa proses asalkan ada embel embel PKInya siapapun akan meregang nyawa,atau paling tidak diasingkan dengan “cap” yang menciptakan derita,pun hingga bertahun tahun kemudian.
Gie sendiri pernah bertanya kepada dirinya sendiri,sebuah pertanyaan yang sebelumnya telah ditanyakan oleh ibunya,tentang apa gunanya ia menulis kritikan kritikan tersebut,kritikan yang tidak akan mengubah keadaan,cita cita Gie sangat mulia,menolong rakyat yang tertindas tetapi jika keadaan tidak berubah apa gunanya kritik yang ia tulis,Beberapa hal yang Gie dapat akibat keberaniannya dalam menulis kritikan pada penguasa adalah surat kaleng berisi makian terhadap dirinya,musuh yang semakin banyak (tentunya musuh Gia adalah orang yang yang merasa tersengat kritikan Gie),ada suatu ketika dimana Gie semakin menambah list orang yang memusuhinya dengan cara mengirim bedak dan pupur kepada perwakilan perwakilan mahasiswa yang duduk di parlemen,para mahasiswa yang dahulu ikut turun ke jalan bersamanya di tahun 1966,”Supaya mereka itu bisa berdandan dan tambah cantik di muka penguasa”,itulah makna yang tersirat dari tindakan Gie,lalu kembai ke pertanyaan awal Gie tadi,apa gunanya ia mengkritik selain musuh yang bertambah dan sepi yang menemani? Gie bergelut dengan pertanyaan itu hingga akhir hayatnya,namun kini kitalah yang masih hidup di era berbeda yang menemukan betapa besarnya manfaat yang Gie tebarkan melalui kekritisannya dalam setiap tulisan yang dimuat di surat kabar masa itu.
Gie sudah memiliki sifat kritis sejak masa remajanya,ini bisa dilihat dari caranya menulis tentang pengalamannya bertemu dengan seseorang yang dari segi tampang maupun penampilannya tidak menunjukkan bahwa ia pengemis namun orang itu kelaparan,untuk menutupi rasa laparnya orang itu memakan kulit mangga dari tong sampah dekat dia berdiri,Gie adalah orang yang memiliki rasa iba,seperti kebanyakan manusia lainnya,Gie tidak tahan melihat adegan tersebut dan ia memberi uang terakhir yang dimilikinya sekitar dua setengah rupiah kepada orang pemakan kulit mangga tadi,sebuah ironi yang dilihat Gie adalah adegan tersebut terjadi di tempat yang tidak jauh dari kediaman RI 1 kala itu,benar,jaraknya hanya dua kilometer dari istana kepresidenan.Rasa iba inilah yang kemudian menimbulkan kesadaran pada diri Gie,suatu rasa iba politik yang menyebabkan dia mengutuk kebijaksanaan politik kemewahan dan kesewenang wenangan.Jika dikaitkan dengan zaman sekarang sesungguhnya apa yang dilihat Gie masih dapat dilihat dengan mata telanjang,banyak orang berpakaian rapi di kereta tapi sesungguhnya ia dalam keadaan lapar,bisa jadi orang berpakaian rapi tadi adalah pekerja yang baru di PHK,bisa jadi orang yang berpakaian rapi tadi sedang bingung membawa pulang apa untuk anak isterinya sedang uang di kantong tinggal receh atau bisa dikatakan kosong melompong,kita tidak bisa mendustakan hal itu,ada,ya jauh setelah adegan yang dilihat Gie terjadi,peristiwa itu masih ada,bahkan setelah reformasi,kini penguasa mengkhiananti reformasi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar