Soe Hok Gie,seorang
sosok idealis yang lahir pada tanggal 17 Desember 1942,mengenai tanggal
lahirnya tidak banyak dbicarakan,ia hanya menulis :
“Saya
dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik”.
Gie berperawakan kecil tetapi
bercita cita besar,Gie adalah seorang pemuda yang tidak hanya belajar dan
berusaha untuk mengejar cita citanya tetapi ia juga mencatat berbagai hal yang
dialaminya dan dipikirkannya.Itulah yang membuat ia abadi dan dicintai,seperti
kata Pram
“Tahu
kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis.Suaramu
takkan padam ditelan angin,akan abadi,sampai jauh,jauh dikemudian hari”.
Gie adalah
seorang mahasiswa Universitas Indonesia jurusan sejarah,pada masa itu
fakultasnya bernama Fakultas Sastra sekarang telah berubah menjadi Fakultas
Ilmu Budaya.Meskipun seorang lulusan sejarah,Gie tidak dapat dkatakan sebagai
ahli sejarah karena ia kurang sabar mempelajari persoalan persoalan sejarah
secara teratur dan teliti namun dia adalah seorang pemikir yang ulung,ia selalu
menggunakan segenap akal pikirannya untuk mempelajari dan memecahkan berbagai
problematika yang sedang terjadi dalam masyarakat terutama pada era Presiden
Soekarno.Gie banyak mendapat perhatian dan simpati akibat kevokalannya melalui tulisannya yang kritis dan dia dikenal oleh berbagai
kalangan dari tukang peti mati sampai kalangan “langit” kala itu.
Gie adalah
seorang pemuda yang berani,banyak tulisan tulisannya yang dimuat di surat kabar
sarat dengan kecaman maupun kritik pedas kepada pemerintah,ia menjadikan
kenyataan sebagai sumber utama pemikirannya,keadaan yang sedang bergulir pada
era Soekarno benar benar menggelitik akalnya untuk terus bekerja,menemukan
berbagai ide dan gagasan untuk mewujudkan cita citanya,mulia dan
sederhana,keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Peran Gie
terhadap pergantian rezim Soekarno ke
era Soeharto tidaklah kecil,dengan tulisan tulisan kritisnya itulah ia
menyadarkan dan menggerakkan para pembaca terutama pemuda untuk mengubah
keadaan yang sedemikian bobroknya kala itu,Gie juga sering menjadi orang di
belakang layar ketika para mahasiswa turun ke jalan,namun sayang justru
perjuangan Gie dan pemuda lainnya dikhianati oleh pemerintahan Soeharto
sendiri,pun dengan militer yang pada awalnya dipercayai Gie untuk mengubah
keadaan kemudian malah mengkhianatinya dengan peristiwa pembantaian massal
terhadap PKI dan simpatisannya,tangkap
dan adili,itulah jargon yang populer kala itu.Walaupun tanpa proses asalkan ada
embel embel PKInya siapapun akan meregang nyawa,atau paling tidak diasingkan dengan
“cap” yang menciptakan derita,pun hingga bertahun tahun kemudian.
Gie sendiri
pernah bertanya kepada dirinya sendiri,sebuah pertanyaan yang sebelumnya telah
ditanyakan oleh ibunya,tentang apa gunanya ia menulis kritikan kritikan
tersebut,kritikan yang tidak akan mengubah keadaan,cita cita Gie sangat
mulia,menolong rakyat yang tertindas tetapi jika keadaan tidak berubah apa
gunanya kritik yang ia tulis,Beberapa hal yang Gie dapat akibat keberaniannya
dalam menulis kritikan pada penguasa adalah surat kaleng berisi makian terhadap
dirinya,musuh yang semakin banyak (tentunya musuh Gia adalah orang yang yang
merasa tersengat kritikan Gie),ada suatu ketika dimana Gie semakin menambah
list orang yang memusuhinya dengan cara mengirim bedak dan pupur kepada
perwakilan perwakilan mahasiswa yang duduk di parlemen,para mahasiswa yang
dahulu ikut turun ke jalan bersamanya di tahun 1966,”Supaya mereka itu bisa
berdandan dan tambah cantik di muka penguasa”,itulah makna yang tersirat dari
tindakan Gie,lalu kembai ke pertanyaan awal Gie tadi,apa gunanya ia mengkritik
selain musuh yang bertambah dan sepi yang menemani? Gie bergelut dengan pertanyaan
itu hingga akhir hayatnya,namun kini kitalah yang masih hidup di era berbeda
yang menemukan betapa besarnya manfaat yang Gie tebarkan melalui kekritisannya
dalam setiap tulisan yang dimuat di surat kabar masa itu.
Gie sudah
memiliki sifat kritis sejak masa remajanya,ini bisa dilihat dari caranya
menulis tentang pengalamannya bertemu dengan seseorang yang dari segi tampang
maupun penampilannya tidak menunjukkan bahwa ia pengemis namun orang itu
kelaparan,untuk menutupi rasa laparnya orang itu memakan kulit mangga dari tong
sampah dekat dia berdiri,Gie adalah orang yang memiliki rasa iba,seperti
kebanyakan manusia lainnya,Gie tidak tahan melihat adegan tersebut dan ia memberi
uang terakhir yang dimilikinya sekitar dua setengah rupiah kepada orang pemakan
kulit mangga tadi,sebuah ironi yang dilihat Gie adalah adegan tersebut terjadi
di tempat yang tidak jauh dari kediaman RI 1 kala itu,benar,jaraknya hanya dua
kilometer dari istana kepresidenan.Rasa iba inilah yang kemudian menimbulkan
kesadaran pada diri Gie,suatu rasa iba politik yang menyebabkan dia mengutuk
kebijaksanaan politik kemewahan dan kesewenang wenangan.Jika dikaitkan dengan
zaman sekarang sesungguhnya apa yang dilihat Gie masih dapat dilihat dengan
mata telanjang,banyak orang berpakaian rapi di kereta tapi sesungguhnya ia
dalam keadaan lapar,bisa jadi orang berpakaian rapi tadi adalah pekerja yang
baru di PHK,bisa jadi orang yang berpakaian rapi tadi sedang bingung membawa
pulang apa untuk anak isterinya sedang uang di kantong tinggal receh atau bisa
dikatakan kosong melompong,kita tidak bisa mendustakan hal itu,ada,ya jauh
setelah adegan yang dilihat Gie terjadi,peristiwa itu masih ada,bahkan setelah
reformasi,kini penguasa mengkhiananti reformasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar