Jumat, 25 Juli 2014

I Put My Trust In Allah

Lama rasanya tidak kembali menulis di blog ini setelah tumblr menjadi wadah tulisanku. Sungguh banyak kejadian dalam hidupku dalam lima bulan terakhir Gie. Aku ingin menceritakan tentang seseorang kepadamu, aku ingin kau mendengarnya.
Andai kau tahu betapa rasanya semua seperti mimpi, mencoba untuk bangun tapi ternyata ia tidak dalam keadaan tidur.
Pernahkah kau merasakan kekecewaan mendalam? rasa bersalah, krisis kepercayaan pada orang lain bahkan kepada dirimu sendiri. Dia merasakan hal tersebut beberapa waktu yang lalu, waktu yang rasanya cukup lama.
Hari demi hari berlalu begitu saja, kehilangan benar-benar membuat semuanya berubah. Waktu berjalan dengan lambat, dunia terasa membosankan, tidak ada gairah sama sekali. Pernahkah kau merasakan di tengah keramaian kau merasa tidak berguna? kau hanya butiran debu yang terbang hanya mengikuti angin yang berhembus. Pernahkah kau merasakan untuk apa engkau ada di dunia ini? mengapa hidupmu penuh liku? mengapa rasanya dunia tidak adil? mengapa tidak ada satupun orang yang mengerti dan memahami dirimu? mengapa orang-orang membuatmu terluka? atau pernahkah kau merasa bahwa kau adalah orang bodoh dengan masa lalu yang memalukan dari perbuatanmu? pernahkah kau merasa bahwa kau diciptakan hanya untuk tontonan atau hiburan belaka?
Semua itulah yang pernah seseorang itu rasakan. Betapa ia merasa putus asa terhadap dirinya sendiri, setelah semua kejadian menghampiri rasa-rasanya dia yang dulu sudah tidak ada lagi, lenyap entah kemana. Sungguh kuat pengaruh sebuah depresi, menjadikan orang yang dahulu selalu tersenyum bahkan mengajak orang untuk bersemangat menjadi orang yang begitu tertekan dengan dirinya sendiri, orang periang menjadi pemurung.
Baginya sangat membosankan menghadapi hari-hari yang seperti itu, hendak melarikan diri, tapi kemana? 
Semua itu adalah bagian dari depresi yang pernah dirasakan oleh sebagian makhluk Tuhan Yang Maha Esa, salah satunya  orang itu.
Sebuah gejala dimana perasaan rendah diri, putus asa, kehilangan dan kesedihan yang mendalam tidak kunjung pergi dari diri seorang hamba. Semua gejala yang dialami oleh seorang hamba Allah di atas setelah diteliti adalah sebuah gejala depresi klinis yang harus ditangani secara medis. 
Dalam kondisi medis seperti itu seorang hamba akan merasa sedih, terpuruk, putus asa yang berkepanjangan atau dalam waktu yang lama, bukankah berbulan-bulan lalu memang waktu yang sangat panjang?
Setelah semuanya yang dirasakannya, kemudian hati kecilnya berkata pada dirinya sendiri, "Hai kau, kenapa kau menjadi seperti ini kemana semangat yang dahulu menggebu-gebu? Kemana senyum yang dahulu selalu terpasang di wajahmu? Kemana canda yang biasa Kau lontarkan? Mengapa sekarang begitu mudah tersinggung? Semua pertanyaan itu berkecamuk di hati yang entah seukuran apa. Memang sejak beberapa bulan lalu hamba Allah itu jarang sekali membaca sesuatu yang menghibur, menonton drama yang mengayakan jiwa dengan pesan moral, dan lebih banyak diam, lebih banyak melamun. Seseorang ini menganggap bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan untuk tidak kecewa adalah dengan tidak percaya pada siapapun dan tidak mencintai siapapun. Ia hanya merasakan kesepian dalam hidupnya.
Semakin hari pertanyaan itu semakin menendang-nendang nurani, Hamba Allah yang satu ini menyadari bahwa apa yang ia pelihara dalam dirinya adalah sebuah kesalahan besar, ia yakin jika ia memelihara semua perasaan itu tidak perlu menunggu waktu lama ia akan mati, perlahan tapi pasti. 
Perlahan ia berpikir, merenung, semua apa yang ia rasakan adalah hasil dari apa yang ia pikirkan tentang hidup, hasil dari persepsinya terhadap dirinya sendiri. Ia menyadari, sungguh menyadari, masalah yang ia hadapi bukanlah pada dunia melainkan pada dirinya sendiri. bagaimana dirinya menghadapi sebuah realita. 
Orang tuanya kemudian menyadari apa yang terjadi pada anaknya, ia menanyakan apa yang anaknya rasakan, menawarkan apakah si anak mau menjalani pengobatan medis atau tidak. seseorang yang bermasalah dengan dirinya sendiri ini hanya diam, tersenyum sesaat.
Seseorang ini kemudian berpikir penyembuhan, ia butuh obat, dan ia meyakini yang dibutuhkannya bukanlah pil, vitamin, dokter, psikolog atau apapun namanya, ia menyadari satu yang goyah dari dirinya yang membuatya terlalu hanyut dalam kesedihan, yang mana sesuatu itulah yang menjadi obat yang akan menyembuhkannya, ia menyadari satu hal itu adalah IMAN.
Sungguh semesta mendukung penyembuhannya, Ramadhan tiba, ia memutuskan untuk pergi dari hiruk pikuk dunia, merenungi Dirinya dan Pencipta.
Ia mencari dan mencari. Ia menemukan apa yang sebenarnya dulu telah ia ketahui, namun luntur karena kesedihannya. Hari pertama ia mencari jawaban apakah ia hanya dijadikan hiburan atau tontonan di Arsy sana? sungguh ia sangat menyesal dan hujan air mata membasahi jiwanya, 
.........”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
......... “Apa kalian mengira bahwa sessungguhnya Kami menciptakan kalian sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami lagi. (QS. Al-Mukminun [23]: 115).
Sesungguhnya dengan yang tercatat di kitabNya adalah sebuah kebenaran, tidak ada dusta, tidak ada kebohongan. Ia menyadari betapa ia telah mengingkari apa yang selama ini ia percaya. Penyesalan terdalam dari dirinya adalah mengapa ia sangat lemah dan menyangka bahwa ia hanya tontonan belaka, sungguh tidak demikian. Allah menciptakannya untuk sebuah alasan, untuk sebuah tugas yang telah Allah tetapkan di Kitabnya, sebagai khalifah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sungguh ia salah mengira bahwa Allah meninggalkannya, Allah sama sekali tidak pernah meninggalkannya, yang membuatnya tetap bertahan adalah Allah, Allah senantiasa menguatkan hatinya, hingga ia mampu kembali merenungi apa yang telah terjadi.

......."Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad)tentang Aku,maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu....." (2:186)
 Sungguh Allah sekali-kali tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Dia yang kekal, menguasai apa-apa yang di langit dan di bumi. Dia memberikan ujian, memberikan kematian dan kehidupan agar tahu siapa-siapa dari hamba-hambaNya yang paling baik amalannya
Seseorang itu menyadari, kematian orang yang sangat berarti dalam hidupnya adalah sesuatu yang telah ditetapkan di Lauhul mahfudz, sebuah ketetapan yang tidak ada yang mampu menangkisnya atau menghalanginya. dia menyadari, kematian itu sebagai ujian, sejauh mana ia mampu bertahan menghadapi cobaan yang diberikan oleh Tuhannya.
 ........Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk ayat 2)
Ayat-ayat dari Kitab yang suci itu telah memberinya banyak pemahaman. Ia belajar bahwa Allah sekali-kali tidak akan meninggalkannya, mungkin manusia akan mengecewakannya tetapi yang menciptakannya tidak akan pernah mengecewakannya
 ......“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal” (At-Taubah ayat 129)
Ia menyadari bahwa ujian yang dihadapinya ibarat sebuah dinding, semakin tinggi dinding yang mampu ia lompati semakin besar kebahagian yang akan didapatkannya, juga keridhaan dari Tuhannya.Ia menyadari, bahwa ia bukanlah butiran debu yang hanya mengikuti angin, ia lebih kuat dari debu untuk menentukan jalan hidupnya, karena ia mempunyai Allah dan petujuk dalam hidupnya, Al-Qur'an. Orang yang tadi putus asa itu juga kini mengerti, tidak ada gunanya putus asa karena sesungguhnya banyak asa yang bertebaran di bumi Allah. 
….. “….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir" (QS Yusuf ayat 87)   

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53).

 Orang yang tertekan terhadap dirinya sendiri kini berjuang untuk kuat, karena ia yakin, ia bukanlah orang yang lemah, sebagaimana yang Tuhannya janjikan
 .....“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS Ali-Imran 139) 
Dan tahukah kau? Ramadhan telah hampir berakhir, kemana kah si depresi tadi? 
Ia kini menjadi ia yang lebih kuat, mecoba memahami, mencoba mengerti, mencoba mengubah semuanya menjadi lebih baik. Ia percaya jika ia berusaha mengubah dirinya menjadi orang yang lebih baik, berusaha mengubah keadaannya, maka janji Allah pasti akan datang, rahmat-Nya pasti akan berlimpah, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Dia, Sang Raja bumi dan langit. Dan salah satu hal yang benar-benar terbukti adalah, bahwa Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang mampu menyembuhkan segala penyakit, kitab suci adalah sebuah obat yang dating dari Yang Maha Menyembuhkan,baik hati maupun fisik.

Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu

 Masuklah ke dalam surgaKu

(QS AL Fajr ayat 27-30)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar