Lama
rasanya tidak kembali menulis di blog ini setelah tumblr menjadi wadah
tulisanku. Sungguh banyak kejadian dalam hidupku dalam lima bulan terakhir Gie.
Aku ingin menceritakan tentang seseorang kepadamu, aku ingin kau mendengarnya.
Andai
kau tahu betapa rasanya semua seperti mimpi, mencoba untuk bangun tapi ternyata
ia tidak dalam keadaan tidur.
Pernahkah
kau merasakan kekecewaan mendalam? rasa bersalah, krisis kepercayaan pada orang
lain bahkan kepada dirimu sendiri. Dia merasakan hal tersebut beberapa waktu
yang lalu, waktu yang rasanya cukup lama.
Hari
demi hari berlalu begitu saja, kehilangan benar-benar membuat semuanya berubah.
Waktu berjalan dengan lambat, dunia terasa membosankan, tidak ada gairah sama
sekali. Pernahkah kau merasakan di tengah keramaian kau merasa tidak berguna?
kau hanya butiran debu yang terbang hanya mengikuti angin yang berhembus.
Pernahkah kau merasakan untuk apa engkau ada di dunia ini? mengapa hidupmu
penuh liku? mengapa rasanya dunia tidak adil? mengapa tidak ada satupun orang
yang mengerti dan memahami dirimu? mengapa orang-orang membuatmu terluka? atau
pernahkah kau merasa bahwa kau adalah orang bodoh dengan masa lalu yang
memalukan dari perbuatanmu? pernahkah kau merasa bahwa kau diciptakan hanya
untuk tontonan atau hiburan belaka?
Semua
itulah yang pernah seseorang itu rasakan. Betapa ia merasa putus asa terhadap
dirinya sendiri, setelah semua kejadian menghampiri rasa-rasanya dia yang dulu
sudah tidak ada lagi, lenyap entah kemana. Sungguh kuat pengaruh sebuah
depresi, menjadikan orang yang dahulu selalu tersenyum bahkan mengajak orang
untuk bersemangat menjadi orang yang begitu tertekan dengan dirinya sendiri,
orang periang menjadi pemurung.
Baginya
sangat membosankan menghadapi hari-hari yang seperti itu, hendak melarikan
diri, tapi kemana?
Semua
itu adalah bagian dari depresi yang pernah dirasakan oleh sebagian makhluk
Tuhan Yang Maha Esa, salah satunya orang itu.
Sebuah
gejala dimana perasaan rendah diri, putus asa, kehilangan dan kesedihan yang mendalam
tidak kunjung pergi dari diri seorang hamba. Semua gejala yang dialami oleh
seorang hamba Allah di atas setelah diteliti adalah sebuah gejala depresi
klinis yang harus ditangani secara medis.
Dalam
kondisi medis seperti itu seorang hamba akan merasa sedih, terpuruk, putus asa
yang berkepanjangan atau dalam waktu yang lama, bukankah berbulan-bulan lalu
memang waktu yang sangat panjang?
Setelah
semuanya yang dirasakannya, kemudian hati kecilnya berkata pada dirinya
sendiri, "Hai kau, kenapa kau menjadi seperti ini kemana semangat yang
dahulu menggebu-gebu? Kemana senyum yang dahulu selalu terpasang di wajahmu?
Kemana canda yang biasa Kau lontarkan? Mengapa sekarang begitu mudah
tersinggung? Semua pertanyaan itu berkecamuk di hati yang entah seukuran apa.
Memang sejak beberapa bulan lalu hamba Allah itu jarang sekali membaca sesuatu
yang menghibur, menonton drama yang mengayakan jiwa dengan pesan moral, dan
lebih banyak diam, lebih banyak melamun. Seseorang ini menganggap bahwa hal
terbaik yang dapat dilakukan untuk tidak kecewa adalah dengan tidak percaya
pada siapapun dan tidak mencintai siapapun. Ia hanya merasakan kesepian dalam
hidupnya.
Semakin
hari pertanyaan itu semakin menendang-nendang nurani, Hamba Allah yang satu ini
menyadari bahwa apa yang ia pelihara dalam dirinya adalah sebuah kesalahan
besar, ia yakin jika ia memelihara semua perasaan itu tidak perlu menunggu
waktu lama ia akan mati, perlahan tapi pasti.
Perlahan
ia berpikir, merenung, semua apa yang ia rasakan adalah hasil dari apa yang ia
pikirkan tentang hidup, hasil dari persepsinya terhadap dirinya sendiri. Ia
menyadari, sungguh menyadari, masalah yang ia hadapi bukanlah pada dunia
melainkan pada dirinya sendiri. bagaimana dirinya menghadapi sebuah
realita.
Orang
tuanya kemudian menyadari apa yang terjadi pada anaknya, ia menanyakan apa yang
anaknya rasakan, menawarkan apakah si anak mau menjalani pengobatan medis atau
tidak. seseorang yang bermasalah dengan dirinya sendiri ini hanya diam,
tersenyum sesaat.
Seseorang
ini kemudian berpikir penyembuhan, ia butuh obat, dan ia meyakini yang
dibutuhkannya bukanlah pil, vitamin, dokter, psikolog atau apapun namanya, ia
menyadari satu yang goyah dari dirinya yang membuatya terlalu hanyut dalam
kesedihan, yang mana sesuatu itulah yang menjadi obat yang akan
menyembuhkannya, ia menyadari satu hal itu adalah IMAN.
Sungguh
semesta mendukung penyembuhannya, Ramadhan tiba, ia memutuskan untuk pergi dari
hiruk pikuk dunia, merenungi Dirinya dan Pencipta.
Ia
mencari dan mencari. Ia menemukan apa yang sebenarnya dulu telah ia ketahui,
namun luntur karena kesedihannya. Hari pertama ia mencari jawaban apakah ia
hanya dijadikan hiburan atau tontonan di Arsy sana? sungguh ia sangat menyesal
dan hujan air mata membasahi jiwanya,
.........”Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
.........
“Apa kalian mengira bahwa sessungguhnya Kami menciptakan
kalian sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami lagi. (QS.
Al-Mukminun [23]: 115).
Sesungguhnya
dengan yang tercatat di kitabNya adalah sebuah kebenaran, tidak ada dusta,
tidak ada kebohongan. Ia menyadari betapa ia telah mengingkari apa yang selama
ini ia percaya. Penyesalan terdalam dari dirinya adalah mengapa ia sangat lemah
dan menyangka bahwa ia hanya tontonan belaka, sungguh tidak demikian. Allah
menciptakannya untuk sebuah alasan, untuk sebuah tugas yang telah Allah
tetapkan di Kitabnya, sebagai khalifah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi
orang lain. Sungguh ia salah mengira bahwa Allah meninggalkannya, Allah sama sekali tidak pernah meninggalkannya,
yang membuatnya tetap bertahan adalah Allah, Allah senantiasa menguatkan
hatinya, hingga ia mampu kembali merenungi apa yang telah terjadi.
......."Dan apabila
hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad)tentang
Aku,maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu....." (2:186)
Sungguh Allah sekali-kali tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Dia yang
kekal, menguasai apa-apa yang di langit dan di bumi. Dia memberikan
ujian, memberikan kematian dan kehidupan agar tahu siapa-siapa dari
hamba-hambaNya yang paling baik amalannya.
Seseorang itu menyadari,
kematian orang yang sangat berarti dalam hidupnya adalah sesuatu yang telah
ditetapkan di Lauhul mahfudz, sebuah ketetapan yang tidak ada yang mampu
menangkisnya atau menghalanginya. dia menyadari, kematian itu sebagai ujian,
sejauh mana ia mampu bertahan menghadapi cobaan yang diberikan oleh Tuhannya.
........Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.” (QS. Al Mulk ayat 2)
Ayat-ayat dari Kitab yang suci
itu telah memberinya banyak pemahaman. Ia belajar bahwa Allah sekali-kali tidak
akan meninggalkannya, mungkin manusia akan mengecewakannya tetapi yang
menciptakannya tidak akan pernah mengecewakannya.
......“Cukuplah
Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku
bertawakkal” (At-Taubah ayat 129)
Ia menyadari bahwa ujian yang
dihadapinya ibarat sebuah dinding, semakin tinggi dinding yang mampu ia lompati
semakin besar kebahagian yang akan didapatkannya, juga keridhaan dari
Tuhannya.Ia menyadari, bahwa ia bukanlah butiran debu yang hanya mengikuti
angin, ia lebih kuat dari debu untuk menentukan jalan hidupnya, karena ia
mempunyai Allah dan petujuk dalam hidupnya, Al-Qur'an. Orang yang tadi putus asa itu juga kini
mengerti, tidak ada gunanya putus asa karena sesungguhnya banyak asa yang
bertebaran di bumi Allah.
….. “….dan janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari
rahmat Allah melainkan kaum yg kafir" (QS Yusuf ayat 87)
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53).
Orang yang tertekan terhadap dirinya sendiri kini berjuang untuk kuat,
karena ia yakin, ia bukanlah orang yang lemah, sebagaimana yang Tuhannya
janjikan
.....“Janganlah kamu bersikap
lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang
yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS
Ali-Imran 139)
Dan
tahukah kau? Ramadhan telah hampir berakhir, kemana kah si depresi tadi?
Ia
kini menjadi ia yang lebih kuat, mecoba memahami, mencoba mengerti, mencoba
mengubah semuanya menjadi lebih baik. Ia percaya jika ia berusaha mengubah
dirinya menjadi orang yang lebih baik, berusaha mengubah keadaannya, maka janji
Allah pasti akan datang, rahmat-Nya pasti akan berlimpah, sebagaimana yang
telah dijanjikan oleh Dia, Sang Raja bumi dan langit. Dan salah satu hal yang
benar-benar terbukti adalah, bahwa Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat yang mampu
menyembuhkan segala penyakit, kitab suci adalah sebuah obat yang dating dari
Yang Maha Menyembuhkan,baik hati maupun fisik.
Hai
jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu
Masuklah ke dalam surgaKu
(QS
AL Fajr ayat 27-30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar