Sabtu, 09 Agustus 2014

Lilin untuk Hidup Mereka

Begitu banyak kanak-kanak yang menjadi korban kebencian dari orang tuanya terhadap hidup. Banyak orang yang katanya sudah dewasa secara umur namun begitu kekanakan dalam hal pikiran dan jiwa. Banyak anak yang menjadi pelampiasan kemarahan, banyak anak yang menjadi korban dengan menjadi pelaku kriminal untuk menuruti perintah orang tuanya. Mereka lapar, dan mereka mencuri, mereka tidak mnikmati hidup sebagai kanak-kanak. Banyak dari mereka yang menjadi sakit karena perilaku orang tuanya, mereka tidak tahu harus berbuat apa, bahkan mereka mengikuti sebagaimana perilaku yang ditunjukkan oleh orang tuanya. Mereka berbuat cabul, mereka melakukan pelecehan seksual kepada lawan jenis atau bahkan teman sejenis mereka di usia yang sangat belia, mereka terjun ke dunia kriminal dengan menjadi pembunuh hanya karena rasa sakit hati, hal yang sepele namun karena mereka terbiasa menjadi objek luapan emosi dan sakit hati, sedikit saja ada yang menyinggung mereka maka mereka akan kalap sebagaimana orang tuanya. Sungguh menyedihkan ketika mereka benar-benar terjerumus ke jurang terdalam kejahatan, mereka ketahuan telah melakukan kejahatan, para penegak hukum menjalankan fungsinya menegakkan hukum. Kanak-kanak itu masuk ke dalam penjara, berkumpul dengan orang-orang yang serupa bahkan lebih kejam dari mereka. Mereka semakin terpuruk, awalnya ingin memberikan efek jera dan pelajaran justru membuat kanak-kanak itu hancur, hidupnya gelap, mereka mengharapkan ada lilin yang menerangi mereka, tapi dunia seakan turut membenci mereka sebagaimana orang tua mereka. Sanksi penjara yang dilakukan sebagai langkah upaya akhir atau ultimum remidum membuat mereka sebagai korban. Cerita lain, krimalitas yang dilakukan oleh kanak-kanak yang terbuang, anak jalanan. Mereka tidak ditahan sebagaimana perundang-undangan yang mengamanatkan agar jangan sampai anak-anak mengalami masa kecil di penjara, mereka lebih baik tinggal di balai pemasyarakatan. Balai pemasyarakatan? ya, lembaga itu memang ada dalam undang-undang, lembaga sebagai wadah perbaikan diri bagi kanak-kanak yang menjadi korban, katanya ada yang mengawasi mereka dan memperbaiki mereka agar menjadi insan yang lebih baik untuk kehidupan mereka di masa depan. Tapi realita membuktikan, mereka tidaklah ditampung oleh bapas, kepolisian beralasan di sanapun mereka akan kabur, atau tidak ada uang untuk mengantarnya ke sana karena untuk memasukkan seorang anak ke bapas mereka membutuhkan biaya dan kepolisian tidak menganggarkan dana untuk itu, dan kanak-kanak malam itu kembali ke dunia yang seharusnya tidak mereka jalani.
Muak rasanya mendengar realita seperti itu, iba bercampur benci ada penjahat-penjahat kecil yang berbuat jahat untuk bertahan hidup, untuk mengikuti perintah orang tua atau "bos", untuk memenuhi kebutuhan mereka 'menghisap' akibat pergaulan dengan dunia yang buruk.
Kemana mata semua yang ada di negara ini? tidakkah mereka melihat? Bapak presiden apakah menyanyi lebih penting dibanding pergi mengunjungi anak-anak itu dan meminta orang-orangmu membantu mereka keluar dari lingkaran setan? Pengacara-pengacara papan atas tidakkah ada secuil rasa iba terhadap mereka yang keadilannya dirampas? Pikirkanlah kanak-kanak itu, mereka generasi penerus bangsa ini, bngsa akn hancur ketika penerusnya hancur, perhatikan bagaimana penegakan hukum bagi anak-anak diselenggarakan, perhatikan bagaimana penjara mereka yang bercampur dengan penjara orang dewasa, perhatikan bagaimana mereka ketika digiring dan kemudian menunduk di hadapan polisi, perhatikan ketika mereka berlari dari kejaran orang karena mencopet untuk makan, perhatikan mereka yang murung karena penindasan orang tua dan melampiaskannya dengan berbuat jahat pada teman-temannya, lakukan tindakan preventif dan represif, mereka korban, mereka korban sekalipun di hadapan meja hijau kana-kanak itu terdakwa tapi sesungguhnya mereka korban, korban dari orang tua yang menelantarkannya, korban dari didikan yang kurang diberikan kepadanya, korban dari perlakuan masyarakat sekitar kepadanya, korban dari ketidakadilan pemerintah yang tidak memperhatikan mereka. Mereka korban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar