Dalam hidup ini akan banyak hal-hal tak terduga akan menghampiri dirimu.
Entah ia akan membuatmu bahagia, tertawa atau membuatmu merana dan terluka. Segala sesuatu yang membahagiakan tentu kita akan menerimanya dengan senang hati. Tetapi, ketika yang menghampiri adalah sesuatu yang membuat kebahagiaan kita terenggut, maka penerimaan akan sulit terjadi.
Penerimaan didefinisikan sebagai proses. sikap atau cara menerima sesuatu. Aku pernah mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan, setiap saat mengingatnya maka aku akan menangkis semua yang kualami, aku membencinya mengapa hal itu terjadi padaku, aku akan marah, marah yang tidak tentu arah, kadang aku marah pada orang di sekitarku, kadang aku marah pada diriku sendiri. Hati yang ditimpa oleh kebencian berkali-kali menjadikannya seperti batu, keras. Kadang ketika ingatan-ingatan buruk itu muncul, aku berharap tidak ada aku di dunia ini, aku ingin lari, pergi meninggalkan segala kegelisahan, keterpurukan.
Aku menyesali setiap perbuatanku, perbuatan orang-orang terhadapku yang membuatku sakit.
Hatiku memang diliputi kebencian ketika aku mengingat hal-hal yang buruk yang pernah menimpaku, tetapi di sela kebencian itu ada semacam dorongan untuk melakukan sebuah penerimaan,
Sulit memang, tapi aku pernah mendengar kata-kata dari seseorang, entah itu di televisi atau dimanalah, ia berkata dengan adanya penerimaan akan ada penyembuhan.
Kemudian aku menghayati arti menerima, menerima bukanlah hanya di mulut saja, tidak hanya di hati, tapi dalam bersikap untuk masa yang akan datang. Penyesalan akan selalu hadir, tetapi bukankah itu yang namanya hidup? Kita berbuat salah dan kita menyadarinya kemudian berusaha mengubahnya? Setiap hal yang terjadi dalam hidupku ini aku sadari ada yang mengaturnya, ada suatu masa kesalahan yang menyebabkan luka berasal dari diriku sendiri dan ada pula masa setiap kesedihan yang kita hadapi berada dalam kuasaNya
Hidup adalah perjalanan panjang, ya panjang walaupun waktunya singkat, kisahnya yang mebuat dunia ini terasa sangat panjang.
Aku belajar untuk menerima, aku belajar dari mereka yang terasingkan oleh zaman, yang lemah dan teraniaya, dari seorang nenek tua yang menghadapi meja hijau karena biji kakao, dari petani yang masuk jeruji besi karena sebuah baju usang nan bau. Aku mengamati hidup dari kriminal yang berjuang untuk kebutuhan keluarganya, dari penderita penyakit mematikan yang tidak pernah menyerah, dari mereka yang keadilannya digadaikan, dan dari mereka yang selalu memiliki pengharapan.Aku belajar bahwa sudah seharusnya aku lebih bersyukur atas apa yang ada padaku, bersyukur bahwa aku masih diperkenankan untuk memperbaiki semuanya, bukan tenggelam dalam kebencian dan kemarahan.
Penerimaan adalah kunci penyembuhan, dan keikhlasan adalah kunci dari penerimaan. Di sini aku tidak memasukkan teori-teori dari barat, Yunani atau darimana pun, tapi ini dari kaca mataku sendiri, karena ini adalah kata hatiku.
Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.
-Pram
Tidak ada komentar:
Posting Komentar