Berapa juta detik yang harus kulalui tanpamu
Berapa ribu hari yang harus kulewati dalam rindu yang tak pernah terbalas
Bibirku terlalu kelu untuk kembali menyebut namamu
Dalam setiap mimpi kuberharap bertemu denganmu
Dalam setiap kesunyian kuberharap mendengar suaramu
Biarkan semua pergi asal kau tidak pergi
Biarkan aku terasing dari dunia asal kau disisiku
Aku tak tahu sampai kapan rindu memenjarakan hatiku
Dalam malam berselimut dingin
Aku memejamkan mata
Memeluk rindu
Memeluk bayangmu
Yang tak akan pernah kulepas..
Aku masih kecewa dengan sikap Marinka yang pasrah,aku tidak mengerti dengan perkataannya,memilih keadaan apa,lupakan dia?,bagaimana bisa setahun aku mengenalnya,sebelas bulan pertama kukerahkan tenaga untuk mengenalnya lalu mengumpulkan kekuatan besar untuk memintanya menjadi bagian hidupku,lalu kini ia suruh aku melupakannya,apa dia pikir perasaanku ini mainan yang bisa dipermainkan.Aku marah tapi aku tidak tahu apa MArinka pantas menerima kemarahanku,aku ingin menenangkan diri,kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan kuambil wudhu,aku ingin mengadu pada yang menciptakan cinta dan melukiskan takdir.
Matahari menyapa langit di ufuk timur,lalu merayap mulai menerangi pagi,menembus jendela kamarku dan menyentuh kulitku yang dingin karena malam,mungkin sinar matahari yang datang mampu menjadikan kulitku sedikit lebih hangat namun tidak hatiku yang masih terasa dingin,semakin dingin mengingat pertemuan tadi malam,jika dibiarkan mungkin hati ini mati karena hipotermia,atau pecah berantakan seperti es yang ditancapkan paku lalu dipukul keras keras dengan palu,sakit,sangat sakit.
Aku rindu pada Marinka,apa Marinka juga rindu padaku?,Aku tahu Marinka adalah gadis yang memegang teguh ajaran yang dibawa oleh orang nomor satu paling berpengaruh di dunia,sang panglima perang terbaik dan imam teladan,aku tahu Marinka sangat menjaga diri dari pergaulan lawan jenis terutama yang tidak halal baginya,sehingga mungkin ketika ia juga merindu padaku,ia tidak akan menjadi gila,karena ia selalu mengadu pada tuhan yang menciptakan rindu.Aku yakin pria yang disiapkan menjadi imamnya oleh Allah sangat beruntung,dan aku berharap calon imamnya itu aku,tetap berharap dan berharap dengan itu aku masih punya kekuatan utuk berjuang.
Aku rindu pada Marinka,apa Marinka juga rindu padaku?,Aku tahu Marinka adalah gadis yang memegang teguh ajaran yang dibawa oleh orang nomor satu paling berpengaruh di dunia,sang panglima perang terbaik dan imam teladan,aku tahu Marinka sangat menjaga diri dari pergaulan lawan jenis terutama yang tidak halal baginya,sehingga mungkin ketika ia juga merindu padaku,ia tidak akan menjadi gila,karena ia selalu mengadu pada tuhan yang menciptakan rindu.Aku yakin pria yang disiapkan menjadi imamnya oleh Allah sangat beruntung,dan aku berharap calon imamnya itu aku,tetap berharap dan berharap dengan itu aku masih punya kekuatan utuk berjuang.
Aku bersiap untuk berangkat ke kantor,iya,meskipun hati ini sedang berantakan dan mungkin ada remahan hati yang tanpa sengaja tercecer di lantai kamar dan aku ingin menyapu remahan itu dan membuangnya,tapi tidak mungkin pada remahan itu ada huruf huruf kecil yang tertulis disetiap serpihannya,nama marinka ada di sana,aku tidak ingin melepasnya,biarkan remahan hati itu kurapikan dengan tanganku dan kuminta dia untuk menata ulang sehingga hati ini menjadi kembali utuh,tidak ada satupun yang tercecer,aku kembali berharap.
“Adit,makan dulu,mama udah nyiapin roti selai keju”,seru mama tanpa menyadari betapa sakitnya hatiku kini,”Nggak usah mah,aku nggak laper”,ketusku,”Mama udah nyiapin capek capek tapi kamu gak mau makan,kamu kenapa sih?,nggak sopan”,kata mama menekankan suaranya,”Mama masih Tanya aku kenapa?,ya Allah mama itu nyadar gak sih apa yang udah mama lakuin ke adit,adit sakit mah,hati ini sakit”,kataku sambil memegang dadaku,lalu pergi meninggalkan mama dengan tatapannya yang tajam.
Aku merasa waktu berjalan begitu lambat dan sepertinya jam kantor tidak sepaham denganku,ia memperlihatkan betapa cepatnya waktu melaju,kini sudah pukul empat sore,aku tidak konsentrasi seharian ini,smuanya begitu menjemukan,aku ingin segera pergi dan menemui Marinka dan mencoba meyakinkannya kembali.
Aku segera pergi melangkahkan kaki ke luar kantor dan mengambil mobil di parkiran,berpikir hendak menghampiri marinka di kampusnya tapi kemudian ku baru ingat,hari ini adalah hari Sabtu dan biasanya hari ini ia kerja part time di kantornya yang tak jauh dari kantorku,sempat ragu apakah aku membawa mobilku atau tidak tapi dengan berharap bisa mengantar Marinka-yang biasanya tidak mau diantar sehingga butuh berbagai cara untukku agar bisa bersamanya salah satunya dengan berdiskusi tentang suatu hal di bis,bukan di mobilku-,aku memutuskan untuk membawa mobil.
Di gerbang kantornya aku melihat Marinka dari kejauhan,sama seperti biasa,begitu cantik dengan kerudungnya yang menjulur panjang.Mobilku mendekat menuju Marinka berdiri,kuhentikan laju mobilku dan keluar dari mobil dan melejit mengampiri Marinka,”Marin”,seruku yang membuatnya menoleh ke arah suara yang menyapanya berasal,”Kak Adit,ada apa kak adit ke sini? Kak adit masih belum mengerti kata kataku kemarin?apa perlu aku ulangi?”,sergah marinka tanpa mengizinkanku membuka percakapan dengan menanyakan kabar atau apa,”Seberapapun usaha kamu untuk mengulang perkataan kamu kemarin tidak akan pernah aku mengerti karena aku tidak akan ingin mengerti,kalau perlu kamu mesti tahu kalo aku cuma anggap yang kamu katakan kemarin hanya sebuah kalimat yang akan menghilang mengambang di udara,tidak akan pernah sampai dihati aku rin”,tegasku pada Marinka,dan lagi sama seperti kemarin,bola mata itu selalu berusaha lari dari tatapanku.
Marinka hanya diam dan hendak melangkah pergi,tapi dua suara yang berpadu menyahut namanya menghentikan langkah kakinya,dua suara yang berasal seorang laki laki bertubuh gemuk tinggi dengan mata panda dan jidat bertempelkan dua bulatan hitam-entah karena sering bersujud atau sering dijedotkan ketembok aku tidak tahu- melambai kea rah Marinka dari belakang kami dan berasal dari diriku,aku tidak tahu suara siapa yang telah menghentikan langkah itu,lagi kuberharap ia berhenti karenaku.
“Hey Marinka”,ujar laki laki itu untuk kedua kalinya,jalannya cepat karena kakinya yang panjang,Marinka menoleh ke belakang tanpa menatapku,”Mas teddy,ada apa mas?”,ujar Marinka seraya melempar senyum ke laki laki itu dan berhasil membuat hatiku terbakar,aku tidak suka ia tersenyum kepada orang lain,Mau pulangkan?”,tanyanya yang dijawab dengan anggukan kepala Marinka,”Kalo gitu bareng sama mas aja yuk,mas mau ke depok tengok adek,kamu tinggal di depokkan?”,Tanya pria itu pada Marinka,aku tersenyum dalam hati karena aku yakin marinka tidak akan menerima tawaran itu,”Boleh mas,maaf ngerepotin”,Jawaban dari Marinka membuatku seperti tersengat listrik,aku pasti salah dengar tapi melihat mereka melangkah bersama menuju parkiran mobil disana membuatku semakin terbakar,ah perih sekali.
Marinka naik mobil itu tanpa menoleh kepadaku,aku tidak mengerti dengan Marinka,aku tidak mengerti wanita,sangat rumit,entah atas alasan apa membuat marinkamenyetujui tawaran pelang bareng dengan pria tadi,Apa? Dia memanggil dirinya Mas kepada Marinka,sok manis sekali aku saja -kurasa- calon suaminya tidak pernah memanggil diriku “kak” kepada dirinya,ah aku kesal sekali.
Mobil avanza hitam itu berhenti tepat dipersimpangan dekat rumah marinka,marinka tampak tersenyum dan berucap terima kasih padanya,aku hanya melihat dari radius 10 meter dari mobil itu dan ketika mobil itu melesat pergi aku segera turun dari mobil dan segera menghampiri Marinka.
“Kenapa kamu mau diantar olehnya tanpa muhrim lagi”,kataku padanya berlagak santai,”Bukan urusanmu kak.”tegas Marinka,”Jelas itu urusanku,kamu adalah calon istriku marinka,aku sudah mengkhitbahmu didepan orang tuamu,aku telah berikrar padamu bahwa aku akan menikahimu”,aku berkata dengan dengan keras,jelas dan menekan di akhir kalimat,”Bukankah aku sudah bilang kaki,aku membebaskanmu mencari wanita lain untuk kamu nikahi dan itu berarti kita tidak ad hubungan apa apa lagi”,bagai ditusuk belati hati ini sangat teramat sakit mendengar kalimat itu terlontar dari mulut marinka,”tapi itu katamu marin,bukan kata ku,bukn kata kita,kamu tidak bisa seenaknya memutuskan sendiri suatu keputusan yang penting bagi kita berdua,dan jika karena masalah perkataan mama waktu itu maka semua ini bisa kita bicarakan lagi dengan baik bukannya lari menghindar untuk mencari solusi ini rin”,kataku menatap tepat ke bola mata marinka,”Kak,kamu sudah dijodohkan oleh orang tuamu,kau harus patuhi itu”,lirih marinka padaku,”Dijodohkan? Marinka,kamu tahu agama,kamu tahu yang menentukan jodoh itu Tuhan,Alllah Marin Allah,kamu tahukan perbikahan yang dipaksakan pada satu pihak saja itu sudah haram,tidak sah hukumnya,pernikahan itu hanya akan membuat pasangan itu terluka dan menderita,kenapa tidak kamu mengerti itu”,kataku padanya,meyakinkan hatinya yang ntah kenapa bisa sekeras batu seperti saat ini,”Kak,aku mohon hentikan semua ini,oke kalo kakak nggak mau berhenti terpaksa aku menghentikan kakak dengan pernyataanku ini dan aku minta kakak dengar baik baik”,bola mata marinka selalu berusaha lari dan kini ia memalingkan wajahnya dariku,”Kakak bertanya kenapa aku mau diantar laki laki tadi,aku aan menjelaskan,dia adalah calon suamiku,dia sudah meminangku,kakak tahu dalam islam jika seseorang wanita sudah dipinang seorang pria maka pria lain haram hukumnya untuk meminang wanita itu pula,jadi tinggalkan dan lupakan aku”,aku bergeming,rasanya dibelakangku ada letusan gunung merapi yang tanpa henti menghujani lahar panas dan batu batuan besar yang mendera tubuhku,matku menjadi kabur dan dunia rasanya berguncang dengan hebat,aku berharap semua perkataan yang dilontarkan marinka hanya ada di dalam mimpiku,aku ingin terbangung,aku ingin segera terbangun,tapi ini bukan mimpi ini nyata,apa yang harus aku lakukan,”Bohong,kamu bohong marinka,kmu bohong marinkaaaa”,teriakku pada marinka,marinka hanya menoleh padaku sesaat dan pergi,meninggalkan besi panas dalam hti dan otakku,air mata mengucur deras dari mataku,mataku benar benar kabur semakin kabur dengan pemandangan yang amat kubenci,punggung yang menjauh.
_bersambung_
By : Hwa Mae KM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar