Kamis, 08 Agustus 2013

Peran Wanita Sebagai Pilar Utama Kemajuan Bangsa di Era Globalisasi



Peran  Wanita Sebagai Pilar Utama Kemajuan Bangsa di Era Globalisasi
Salah satu tokoh yang memiliki sumbangan terbesar dalam  perkembangan pemikiran emansipasi wanita di Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini, beliau memberikan kesadaran pada bangsa Indonesia mengenai pentingnya peran wanita dalam hal membangun dan memajukan  bangsa.
Salah satu aspek yang saya ambil dari berbagai macam pemikiran RA Kartini adalah mengenai peran wanita sebagai pendidik utama dalam peradaban manusia.
Dalam salah satu kutipan yanga da dalam surat RA Kartini pada N.v.Z,yang dimuat di Kolonial Weekblad,25 Desember 1902,ia mengatakan :

            “……Kewajiban yang diterapkan oleh ibu alam sendiri kepada perempuan : pendidik pertama umat manusia!”.
Pemikiran yang dicetuskan oleh kartini  tentang peran wanita ini ternyata tidak saja berfokus pada pembentukan pribadi anak tapi juga bermuara ada pembentukan suatu umat,suatu bangsa yang beradab.
Kartini memberikan kesadaran pada wanita wanita Indonesia untuk berperan aktif dengan menggunakan segala kemampuan terbaiknya..Oleh karena itu emansipasi yang digalakkan oleh Kartini sebagai langkah untuk menyadarkan Individu atau komunitas untuk menjalankan dharma yang dipikulnya sesuai dengan apa yang telah diamanatkan kepadanya.
Emansipasi yang ditawarkan oleh Kartini adalah dengan cara pendidikan yang berkualitas yang merupakan hak setiap orang tanpa membedakan apakah ia laki laki atau perempuan.Emansipasi wanita yang digelorakan oleh Kartini bukanlah emansipasi dalam rangka mendewakan wanita menjadi diatas segala galanya dibanding pria,ataupun dalam rangka melawan kodrat sebagai wanita namun berfokus pada tujuan mengoptimalkan potensi besar yang saat ini masih bersembunyi dalam diri setiap manusia dan dalam rangka menjalankan kodrat sebagai wanitayang bermartabat dan bernilai tinggi.
Peran wanita yang utama sekali adalah mendidik anak anaknya untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.Pribadi anak adalah cerminan sang ibu yang memang sejak awal diasuh dan dididik oleh orang tua terutama  ibu.Pada seorang ibulah lahir anak anak yang berpemikiran cemerlang dan bermoral tinggi,yang melahirkan tokoh tokoh besar penggerak roda kehidupan suatu bangsa dan Negara,sungguh besar peran ini sehingga bekal yang harus dimiliki oleh ibupun haruslebih besar agar buah yang dipetik merupakan buah berkualitas terbaik.
Pada era globalisasi yang menuntut segalanya berjalan secara sempurna,maka pemikiran emansipasi yang digalakkan Kartini pondasi suatu bangunan,yang menjadi dasar wanita Indonesia untuk berbuat dan yang menyertai setiap wanita Indonesia untuk menjadi seorang insan yang memikul tanggung jawab sebagai manusia penentu peradaban.
Sebagai guru utama dalam kehidupan anak yang akan menjadi pemimpin dan penerus bangsa maka seorang wanita harus memiliki pengetahuan dan pendidikan yang cukup yang bisa ia berikan kepada anaknya,terutama dalam era sekarang yang menuntut persaingan sangat ketat dalam proses perjalanan hidup.Bagiamana akan mengasilkan insan bermutu jika sang pendidik tidak memiliki pendidikan yang memadai ataupun berkualitas.
Ada dua point yang berkaitan dengan pendidikan wanita sebagai langkah awal membentuk suatu peradaban yang beradab dan berkualitas tinggi di era globalisasi ini.
Pertama,dari segi pendidikan,masih terjadi kesenjangan dalam perolehan pendidikan yang layak bagi wanita di Indonesia,karena tanpa disadari stigma yang menyatakan bahwa  wanita tidak perlu mendapatkan pendidikan tinggi karena hanya akan menjadi ibu rumah tangga saja masih berkembang dalam masyarakat terutama di daerah pelosok yang masih kental akan adatnya,dari sini dapat terlihat diskriminasi itu masih tumbuh subur di masyarakat Indonesia.
oleh karena itu diperlukan suatu pembentukan kesadaran secara merata di seluruh Indonesia tentang pentingnya pendidikan bagi setiap manusia,setiap warga Negara,dan teramat penting bagi wanita Indonesia.
Point kedua adalah saat ini juga banyak berkembang wanita wanita yang mengejar pendidikan setinggi tingginya,dengan maksud yang berbeda pertama demi kemaslahatan diri sebagai pembentuk peradaban juga ada yang hanya berfokus pada materialistic alias hanya demi karir belaka dengan mengindahkan kewajiban sebagi seorang pembentuk peradaban.Bahkan para wanita modern ini begitu menuhankan karir dan jabatan.
Telah banyak kita lihat di kota kota metropolis,wanita mengejar pendidikan hingga jenjang S3,tentunya mengejar ilmu setinggi tingginya merupakan tindakan sangat mulia,namun banyak yang mempergunakan hanya untuk karir belaka,bahkan dalam menjalankan perannya di keluarga wanita justru lebih memilih menggunakan ilmu yang didapatnya untuk mengejar suatu posisi tertinggi dalam dunia kerja,hal ini tidak masalah jika dia mampu mengelolanya seiring sejalan dengan perannya dalam rumah tangga dimana dalam rumah kecil itu telah menunggu anak anak untuk diasuh,dididik,diberikan kasih sayang sebanyak banyaknya,alangakah mulianya seorang wanita yang mampu berperan sebagai ibu yang baik penyedia amunisi tokoh tokoh yang akan memimpin bangsa yang sekaligus berperan sebagai dokter,pns,jaksa dan peran lainnya dalam dunia masyarakat yang semakin kompleks ini.
Namun justru realita yang umum terjadi saat ini adalah ibu yang bertumpu pada karir dan hanya memberikan perhatian berupa materi saja kepada anaknya.Padahal yang amat dibutuhkan anak tidak hanya itu,materi kebutuhan utama yang ditugaskan kepada ayah,lalu apa peran sesungguhnya wanita?,peran wanita sesungguhnya adalah dengan menerapkan ilmu yang telah dia peroleh dengan susah payah itu kepada anak anaknya,memberikan didikan seoptimal mungkin dengan ilmu yang ada pada dirinya.Inilah yang menjadi visi utama Kartini yang hendak diwujudkannya pada seluruh wanita Indonesia,menjadi ibu intelektual.
Oleh karena itu untuk melanjutkan impian Kartini tentang Wanita Indonesia,maka yang berperan aktif adalah Negara dalam penyediaan fasilitas pendidikan bagi seluruh warga Negara Indonesia termasuk didalamnya wanita,dan wanita itu sendiri.Kedua wanita,keteguhan dan kesungguhan wanita yang intelektual yang mengunakan segala potensi dan daya upaya untu membentuk anak anak peradaban yang intelek yang berorientasi pada kemaslahatan hidup dunia dan akhirat.
_Hwa Mae KM_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar