Rabu, 09 Oktober 2013

Puisi Edisi Terserah

Di sekitar kita,ada mereka.

Jemari tangan yang panjang dan kurus
Menggerayangi tumpukan sampah yang tak terurus
Menantang sinar matahari yang terik
Menyergap angin yang tenang menggelitik

Kau kenapa terlihat begitu tentram?
Dengan berbagai  kontradiksi dunia nyata yang mencekam
Kau tetap tenang
Air mukamu menunjukkan kepasrahan

Aku ingin bertanya,
Tentangmu yang tak pernah berhenti berjalan
Tidakkah kau lelah
Dengan pergumulan hidup yang begitu rumit

Kau begitu setia menatap pada bumi
Kau mencermati setiap penjuru mata angin
Mencari sesuatu yang kuanggap tidak begitu berguna
Mencari yang sesuatu yang merusak pemandangan

Kau meminum air itu,air dari botol yang ada di tumpukan sampah
Oh tidak,kenapa kau lakukan itu?
Jorok! kataku
Tapi kau tetap meneguknya,air sisa di botol itu bercampur dengan peluhmu

Ada perasaan iba dalam hatiku
Ada perasaan marah tanpa arah
Aku iba
Padamu yang kukatakan jorok

Tapi lalu aku tersenyum
Aku menyadari bahwa derajatmu lebih baik,
Daripada mereka yang duduk di tepi jalan dan menadahkan tangan untuk diberi beberapa dentingan uang
Aku menyadari bahwa kau jauh lebih baik,
Dari mereka yang katanya rapi dan sangat bersih
Tapi dengan tangannya yang dilipat
Mereka menyembunyikan sisa kotoran yang tersisa  dan menempel di kuku kuku mereka
Kau lebih baik dari mereka yang sok berkuasa dan sok berwibawa
Kau lebih baik dari mereka
Kau lebih baik dari mereka yang bersih secara fisik,tapi begitu kotor secara mental,kau lebih baik,kataku.

Mae Hwa_KM
(Puisi ini (kalau boleh disebut puisi) ditulis tadi siang,di ruang Makes ketika dosen gak muncul muncul,terus birpen bolehin absen duluan dan pulang.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar